182150psingkawangSINGKAWANG, RABU — Wakil Ketua Perhimpungan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Singkawang, Mulyadi Qamal, menyatakan tingkat hunian hotel dan penginapan di kota tersebut mencapai 100 persen mulai lima hari menjelang Cap Go Meh 2560 yang bertepatan dengan 9 Februari 2009.

“Pemesanan sudah dilakukan satu bulan sebelumnya terutama oleh tamu-tamu dari Jakarta,” kata Mulyadi di Singkawang, Rabu (21/1) seraya menambahkan di Singkawang terdapat 14 hotel dan penginapan.

Ia mengatakan, minat warga keturunan Tionghoa maupun masyarakat lainnya untuk menyaksikan kegiatan Cap Go Meh di Singkawang lebih tinggi dibanding perayaan Tahun Baru Imlek. Salah satunya adalah atraksi tatung yang mendemonstrasikan kemampuan kebal terhadap senjata tajam sambil menyusuri jalan-jalan utama di kota berjuluk “Seribu Kelenteng” itu.

Menurut dia, meski krisis keuangan tengah melanda seluruh dunia, tetapi hal itu tidak mengurangi minat warga keturunan Tionghoa untuk merayakan Imlek dan Cap Go Meh.

“Antusiasme warga tidak berkurang bahkan kegiatan Cap Go Meh tahun ini lebih banyak dibanding tahun lalu,” kata Mulyadi Qamal yang juga mengelola Hotel Khatulistiwa Singkawang.

Lama hunian di hotel maupun penginapan pada perayaan Cap Go Meh umumnya berkisar tujuh hari. “Dua atau paling lama tiga hari setelah Cap Go Meh, biasanya tamu sudah pulang semua,” kata dia.

Mulyadi menegaskan, Singkawang selama ini sudah menjadi salah satu daerah tujuan wisata di Kalbar. “Masyarakat dari kabupaten atau kota lain di Kalbar menjadikan Singkawang sebagai tempat wisata,” katanya.

Pengunjung yang tidak mendapat kamar di hotel atau penginapan, diarahkan untuk menginap di rumah penduduk. “Sudah banyak rumah penduduk di Singkawang yang disewakan untuk menampung pengunjung yang tidak mendapat kamar di hotel atau penginapan,” katanya.

Perayaan Cap Go Meh di Singkawang juga menjadi bentuk akulturasi dengan budaya masyarakat lokal. Menurut sejarah, ketika pertambangan emas di Monterado, Kabupaten Bengkayang, yang terletak di sebelah timur Singkawang terkena wabah penyakit, masyarakat meyakini penyebabnya adalah roh atau makhluk jahat.

Untuk mengatasi itu, Tatung atau Louya turun ke jalan lalu keluar masuk kampung diiringi genderang dan pembakaran gaharu yang tidak putus-putusnya sehingga serangan roh atau makhluk jahat dapat dilawan dan perkampungan menjadi tenteram.

Saat ini, perayaan Cap Go Meh berupa parade Tatung atau Louya pada hari ke-14 turun ke jalan-jalan seputar kota Singkawang yang bermakna melakukan pembersihan kampung. Sementara puncak perayaan Cap Go Meh pada hari ke-15 di mana ratusan Tatung atau Louya dari seputar Singkawang melakukan parade sepanjang jalan utama.

Selama parade, Tatung atau Louya menunjukkan kemampuannya dengan berbagai atraksi, seperti berdiri di atas senjata tajam, wajah maupun badan yang kebal ditusuk dengan senjata tajam. Nuansa magis menjadi sangat terasa pada perayaan Cap Go Meh di Kota Singkawang, seperti pada peringatan-peringatan sebelumnya.

sumber: Kompas.com

60246_gus_dur_deklarasikan_gatara_thumb_300_225VIVAnews – Partai Kebangkitan Bangsa Jawa Barat pendukung Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tidak akan memilih calon legislator PKB pimpinan Muhaimin Iskandar pada pemilihan legislatif April 2009.

“Kami akan  salurkan dukungan untuk calon dari Partai Golongan Karya,” kata Abdul Muis, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah PKB pendukung Gus Dur, di Subang, Selasa 20 Januari 2009. Itu dikatakan di sela-sela deklarasi pemberian dukungan kepada Edeh L. Puradiredja, calon legislator  Partai Golkar.

Bagi anggota Fraksi D DPRD Jawa Barat itu Edeh merupakan tokoh yang memiliki kinerja baik. Itu menjadi salah satu alasan pendukung Gus Dur mendukung Edeh.

Muis tidak tertarik membahas calon legislator yang diusung Muhaimin Iskandar.

Sementara itu, Edeh menanggapi positif dukungan dari PKBitu. Karenanya, dia optimis bakal terpilih menjadi anggota dewan di pemilihan nanti. Dia berharap dukungan itu merupakan titik awal kerjasama antara dua partai itu di masa mendatang.

HUT PDIPPartai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mulai melirik figur calon pendamping Megawati Soekarnoputri pada Pilpres mendatang. Salah satunya adalah Sri Sultan Hamengkubowono X. Kabarnya rakernas PDIP di Solo 25 Januari, sekaligus akan menggelar deklarasi pencalonan Mega-Sultan.
Kabar ini mewacana setelah Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PDIP Taufiq Kiemas melakukan pembicaraan khusus dengan Sultan di Hotel Hyat Yogyakarta, Jumat 16 Januari lalu.
Kendati demikian, beberapa petinggi partai moncong putih itu seolah masih malu-malu mengakui rumor tersebut. Ketua Badan Pemenangan Pemilu PDIP Tjahjo Kumolo bahkan menyanggah isu tersebut.

“Benar pada tanggal 26 Januari itu PDIP akan menggelar Rakernas di Solo. Ini untuk persiapan pemilu dan juga mengagendakan inventarisasi nama-nama cawapres, tapi bukan deklarasi,” ujar Tjahjo kepada okezone, Selasa (20/1/2009).

Tjahjo mengaku, PDIP belum berniat mengumumkan pinangan cawapres Mega itu akan jatuh kepada siapa. “Kami masih menunggu perkembangan politik dan gelagat dinamika politik nasional yang ada sambil mencermati hasil pemilu legislatif,” terangnya.
Meski demikian Tjahjo tidak menolak bahwa partainya akan memilih figur yang layak jual dan dapat merebut suara serta dukungan politik.
Seperti diberitakan, Sri Sultan Hamengkubuwono X dan Hidayat Nurwahid merupakan dua nama yang sama kuat serta memiliki rating tertinggi dalam survei tokoh yang akan mendampingi Megawati.
Meski demikian, keduanya memiliki rintangan yang cukup berat dari asal partainya, baik Hidayat dari internal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) maupun Sri Sultan dari internal Partai Golkar.
Karena itu, PDIP masih terus memperhitungkan plus dan minus yang dimiliki kedua tokoh tersebut. “Dalam hal ini, kami harus cermat dan hati-hati,” kata Tjahjo.(ded) (uky)

WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)
(Composed by Michael Heart)

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Lihat Video di Youtube

ap_israel_soldiers_gaza_175_12jan091Pihak militer Israel mengatakan telah mulai penarikan secara bertahap pasukannya dari jalur Gaza, setelah mengakhiri ofensif selama tiga minggu di wilayah Palestina.

Pejabat Israel tidak memperinci berapa banyak pasukan yang ditarik, tetapi saksi mata mengatakan mereka melihat tank-tank dan tentara infanteri menuju ke perbatasan Israel.

Penarikan Israel itu terjadi tak lama setelah penguasa Hamas mengumumkan genjatan senjata.

Kelompok militan itu mengatakan memberi Israel satu minggu untuk meninggalkan wilayah itu.

Meskipun ada pengumuman itu, militan di Gaza menembakkan paling sedikit tiga roket ke Israel Selatan.

Israel sudah mengumumkan genjata senjata unilateral.

Menyusul pengumuman itu, militan Palestina menembakkan paling sedikit 12 roket kearah Israel, dan pesawat tempur Israel mensasarkan peluncur roket Hamas.

Sumber: VOA

035910p1Enam anak Palestina yang terluka dalam serangan Israel dirawat di rumah sakit di Brussel setelah mereka diungsikan dari Jalur Gaza, kata Kementerian Luar Negeri Belgia, Kamis.

Anak-anak yang berusia antara dua dan 18 tahun itu tiba di Belgia dengan sebuah pesawat pemerintah Belgia dan mereka didampingi satu anggota keluarga mereka masing-masing. Dua orang dari mereka mengalami luka-luka yang parah, sedang empat lain menderita patah tulang, kata jurubicara kementerian itu Bart Ouvry.

Seorang anak ketujuh yang seharusnya juga diungsikan dinyatakan oleh dokter tidak bisa melakukan perjalanan.Pengungsian lebih lanjut anak-anak Palestina diperkirakan dilakukan dalam beberapa hari ini, kata jurubicara itu, yang menolak menyebutklan waktuny

Sebuah gudang di kompleks bangunan PBB di Jalur Gaza hancur, Kamis (15/1) terkena serangan Israel yang tampaknya bom fosfor putih.

“Gudang utama itu rusak parah oleh apa yang tampaknya bom fosfor putih. Mereka yang berada di lapangan tidak ragu-ragu lagi mengenai bom itu. Jika Anda meminta konfirmasi, itu seperti yang saya sebutkan,” kata kepala urusan kemanusiaan PBB John Holmes kepada wartawan pada jumpa pers di New York.

Kompleks bangunan itu milik Badan Bantuan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA). Kelompok hak asasi manusia Human Rights Watch sebelumnya juga menuduh Israel melancarkan serangan dengan bom fosfor putih. Bom ini bisa digunakan untuk tidak saja untuk membunuh namun juga sebagai senjata pembakar bangunan.

Israel menolak berkomentar mengenai penggunaan amunisi tersebut namun mengatakan, militer negara itu menggunakan senjata yang tidak melanggar hukum internasional.

Kecaman-kecaman terhadap militer Israel juga datang dari dalam negeri. Sejumlah kelompok hak asasi manusia di Israel mengatakan, Rabu, ofensif Israel terhadap Hamas di Jalur Gaza telah menimbulkan penderitaan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap warga sipil di wilayah Palestina itu. Mereka menuduh pasukan negara Yahudi tersebut menggunakan senjata-senjata mematikan yang menewaskan ratusan warga sipil yang tidak terlibat dalam konflik itu.

Dalam sepucuk surat yang dikirim kepada Perdana Menteri Israel Ehud Olmert, Menteri Pertahanan Ehud Barak dan jajaran tinggi militer, sembilan kelompok hak asasi manusia itu mengatakan, penduduk sipil di Gaza mengalami penderitaan kemanusiaan yang luar biasa. “Tingkat pencederaan terhadap penduduk sipil itu belum pernah terjadi sebelumnya,” kata kelompok-kelompok itu.

Sejak Israel meluncurkan perang gencar di Gaza, lebih dari 1.000 orang tewas dalam serangan-serangan udara yang tidak terhitung dan pertempuran hebat 10 hari. Jumlah itu mencakup 315 anak dan 100 wanita. Sebanyak 4.700 orang juga cedera dalam ofensif terbesar yang pernah dilakukan Israel ke wilayah pesisir Palestina itu. Para penandatangan surat kecaman itu mencakup Komite Umum anti-Penyiksaan di Israel, Dokter untuk Hak Asasi Manusia — Israel, Yesh Din dan Amnesti Internasional cabang Israel.

Kekerasan di sekitar Gaza meletus lagi setelah gencatan senjata enam bulan berakhir pada 19 Desember. Israel membalas penembakan roket pejuang Palestina ke negara Yahudi tersebut dengan melancarkan gempuran udara besar-besaran sejak 27 Desember dan serangan darat ke Gaza dalam perang tidak sebanding yang mendapat kecaman dan kutukan dari berbagai penjuru dunia.

Setelah pemboman udara beberapa hari, pasukan dan tank-tank Israel melakukan ofensif darat dengan bergerak ke pusat-pusat penduduk utama, termasuk Kota Gaza. Kelompok Hamas menguasai Jalur Gaza pada Juni tahun 2007 setelah mengalahkan pasukan Fatah yang setia pada Presiden Palestina Mahmud Abbas dalam pertempuran mematikan selama beberapa hari. Sejak itu wilayah pesisir miskin yang berpenduduk 1,5 juta orang itu dibloklade oleh Israel.

Sumber: Kompas.com

JAKARTA (Suara Karya): Organisasi pendukung Sultan Hamengkubuwono X sebagai bakal calon presiden pada 2009, Merti Nusantara, mengemukakan, politik survei dan iklan oleh berbagai pihak mengakibatkan timbulnya kesenjangan hubungan antara rakyat dengan negara.

Berdasarkan siaran pers Merti Nusantara yang diterima ANTARA di Jakarta, Jumat, politik survei dan iklan berimplikasi pada manipulasi demokrasi dan komersialisasi politik sehingga berpengaruh pula pada hubungan antara rakyat dengan negara.

Menurut siaran pers tersebut, kesenjangan itu juga berakibat pada melemahnya posisi tawar rakyat dalam proses politik.

Untuk itu, Merti Nusantara menyerukan adanya gerakan nasional dekomersialisasi politik untuk mengembalikan politik sebagai arena rakyat.

Dengan demikian, terdapat beragam kemungkinan baru yang bisa digunakan untuk dapat memperbaiki nasib dan masa depan rakyat.Sedangkan globalisasi industri kampanye telah menjadikan politik bukan sebagai arena rakyat melainkan arena pemodal.

Akibatnya, rakyat tidak ubahnya menjadi seperti batang statistik yang dijadikan sebagai sasaran survei dan ditampilkan secara matematis sehingga mengabaikan nilai humanisme rakyat sebagai manusia.Merti Nusantara, yang merupakan kepanjangan dari Merah Putih Nusantara, merupakan wadah pendukung Sultan untuk maju sebagai capres pada Pemilu 2009. (Antara)

Kerusakan lingkungan kini telah memasuki tahap yang sangat mengkhawatirkan. Krisis ekologi sudah nyata di depan mata, akibat pembangunan yang tidak mempertimbangan faktor lingkungan sedikit pun.

Semua bagian dari sumber daya alam Indonesia sudah di eksploitasi habis-habisan, hutan, tambang (minyak, batu bara, gas), air, hingga keragaman flora dan fauna. Pulau Kalimantan yang dijuluki sebagai paru-paru dunia, kini sudah tinggal cerita akibat penebangan baik legal maupun ilegal. Secara umum, kecepatan kerusakan hutan Indonesia sangat dashyat. Data yang dilansir Wahana Lingkungan Hidup Indonesia – Walhi – dalam satu tahun ada 2,4 juta hektar hutan yang hilang. Jika di analogikan secara sederhana, dalam setiap menit ada hutan seluas 6 kali lapangan sepak bola yang hilang!

Akibatnya berdampak negatif kepada masyarakat seperti turunnya mutu lingkungan hidup seperti terjadinya banjir, tanah longsor, erosi dan sedimentasi, hilangnya sumber daya air, hilangnya peran hutan dalam proses siklus ekologis (pengendalian siklus karbon, oksigen, unsur hara, air dan siklus iklim dunia), serta hilangnya biodiversitas. Bencana alam dihasilkan dari habisnya hutan tersebut, banyak menelan korban. Longsor di Sinjai, Karanganyar, dan berbagai daerah lainnya, yang memakan banyak korban jiwa.

Belum lagi kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh aktivitas penambangan, baik minyak, batu bara, gas, emas dan sebagainya. Pencemaran yang terjadi di Papua yang diakibatkan oleh penambangan tembaga dan emas oleh Freeport sudah sangat parah. Aktivitas Freeport telah mencemari sungai-sungai yang mengalir di Papua, yang merusak lingkungan bahkan sosial budaya masyarakat Papua. Itu hanya salah satu contoh, masih banyak lagi kasus-kasus rusaknya ekologi akibat sektor ekstraktif ini, hingga yang paling anyar meluapnya lumpur di Sidoarjo akibat pengeboran minyak oleh PT. Lapindo Brantas. Semua itu karena Rp 208.097,40 miliar kontribusi bidang Migas terhadap APBN (tahun 2007), hingga pemerintah terus menggerus habis kekayaan alam Indonesia.

Pencemaran lingkungan diperparah lagi dengan kepulan asap yang berasal dari deru mesin industri yang memang di pacu untuk mengejar target pertumbuhan industri hingga mencapai 8,56% pertahun. Namun pertumbuhan industri telah berdosa, tidak hanya menyebabkan polusi udara, tapi juga mencemari air, polusi suara, hingga menyedot sumber-sumber air masyarakat.

Semua pencemaran lingkungan yang terjadi diakibatkan oleh ambisi pemerintah untuk mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Paradigma developmentalism yang dianut oleh pemerintah, dengan bertumpu pada sektor ekstraktif dan industri membuat Indonesia menuju pada krisis ekologi, yang ditandai oleh banyaknya kerusakan lingkungan dan bencana akibat hilangnya keseimbangan ekologi.

Angin segar memang berhembus pada tahun 1992, saat KTT Bumi dilaksanakan di Rio De Jeneiro, Brasil, yang menerima paradigma pembangunan berkelanjutan sebagai agenda politik pembangunan semua negara. Bahkan isu tersebut kembali dibahas dalam World Summit on Sustainable Development, Johanesburg, Afrika Selatan tahun 2002.

Pembangunan berkelanjutan mengidealismekan bahwa dalam pembangunan sebuah negara haruslah terintegrasi dan adanya keseimbangan antara sektor ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan hidup. Dengan pembangunan berkelanjutan diharapkan pemerintah tidak hanya melakukan pembangunan disisi ekonomi saja, namun juga mencakup bidang sosial budaya dan lingkungan hidup. Hal ini menjadi titik tekan karena proses pembangunan selama ini telah membuat kehancuran pada nilai-nilai sosial-budaya dan lingkungan hidup, yang membuat masyarakat harus membayar mahal, bukan saja dalam hitungan nilai finansial melainkan juga dalam bentuk kehancuran kekeyaan sosial-budaya dan kekayaan sumber daya alam serta lingkungan hidup.

Hanya saja setelah sekian lama, paradigma pembangunan berkelanjutan dianggap mengalami kegagalan. Indikator sederhana adalah semakin parahnya kerusakan lingkungan. Kegagalan paradigma pembangunan berkelanjutan disebabkan karena prinsip-prinsipnya yang belum dipahami oleh semua negara, termasuk Indonesia. Pardigma pembangunan berkelanjutan juga belum dapat melepaskan diri pada ideologidevelopmentalism yang mengagung-agungkan pertumbuhan ekonomi. Akibatnya pengurasan dan eksploitasi terhadap sumber daya alam semakin menjadi-jadi, dan kerusakan lingkungan semakin parah.

Disamping itu pemerintah juga masih tidak bisa melepaskan pandangan secara antroposentrisme dalam memperlakukan lingkungan. Antroposentrisme memandang manusia dan kepentingannya merupakan pusat dari sistem alam yang paling menentukan dalam tatanan ekosistem dan kebijakan yang diambil dalam kaitannya dengan alam, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dengan pandangan antroposentrisme ini, segala sesuatu yang ada di alam ini bernilai dan harus diperhatikan sepanjang menunjang dan dapat memenuhi kepentingan-kepentingan manusia. Jika pandangan ini terus di gunakan, maka pengabaian terhadap lingkungan akan terus terjadi.

Kini harus terjadi perubahan mendasar terhadap paradigma pembangunan, dalam hubungannya dengan alam. Paradigma pembangunan berkelanjutan yang masih menggunakan pandangan antroposentris dalam memandang alam sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Arne Naess filusuf asal Norwegia, menawarkan apa yang disebutnya ”keberlanjutan ekologi” sebagai ganti paradigma pembangunan berkelanjutan.

Paradigma keberlanjutan ekologi ini dapat berhasil apabila terjadi perubahan mendasar pada kebijakan ekonomi politik yang menyangkut pertumbuhan ekonomi dan gaya hidup masyarakat yang konsumtif. Secara global, keberlanjutan ekologi ini dapat tercapai apabila kebijakan di tingkat global benar-benar melindungi kekayaan dan keanekaragaman bentuk-bentuk kehidupan di planet ini.

Sasaran utama dari paradigma keberlanjutan ekologi ini bukanlah pembangunan, tapi mempertahankan dan melestarikan ekologi dan seluruh kekayaannya. Dengan begitu pengembangan kehidupan ekonomi dilakukan sekaligus melestarikan ekosistem disekitarnya. Tolok ukur keberhasilan paradigma ini bukanlah indikator material, tetapi pada kualitas hidup yang dicapai dengan menjamin kehidupan ekologis, sosial-budaya dan ekonomi secara proporsional. Gaya hidup yang dibangun tidak lagi gaya hidup yang didasarkan pada produksi dan konsumsi yang berlebihan, melainkan pada apa yang disebut Arne Naess sebagai ”simple in means, but rich in ends, ” bukan having more tapi being more (Keraf, dalam Etika Lingkungan, 2002).

Paradigma keberlanjutan ekologi ini juga memerlukan perubahan watak manusia yang mendiami bumi ini. Jika sebelumnya manusia dipandang sebagai pusat dari alam, dan apa yang ada di alam digunakan untuk memuaskan kepentingan-kepentingan manusia, maka watak manusia harus dirubah ke arah ekosentrisme. Ekosentrisme berpandangan bahwa semua elemen yang ada dalam alam ini saling berhubungan, baik mahluk hidup maupun benda mati. Semua kehidupan, mahluk hidup dan benda-benda abiotis lainnya memiliki nilai dalam dirinya masing-masing, terlepas apakah dia bernilai bagi manusia atau tidak.

Untuk memperbaiki dan mendapatkan kualitas kehidupan yang lebih baik dimasa depan, diperlukan gerakan dari semua elemen. Tidak hanya pemerintah seluruh negara di dunia, melainkan juga tiap umat manusia di muka bumi ini. Sudah saatnya kita nyatakan tidak pada kerusakan lingkungan, dan bergerak maju untuk menjamin keberlanjutan ekologi. Selamat hari lingkungan hidup se dunia.

Oleh Martin Lukito Sinaga

Serangan membabi buta Israel atas Gaza, ataupun invasi Amerika ke Irak tempo dulu, sering diatasnamakan pada keamanan (security). Tampaknya politik antarnegara masa kini menjadi medan hutan rimba yang anarki dan tindakan agresi kerap kali dilancarkan atas nama dan demi keamanan sendiri.

Tentu muncul persoalan mendalam di situ, semisal: kekuatan sebesar apa yang dibutuhkan suatu masyarakat agar ia aman?

Jawaban atas itu sungguh sulit, sebab Amerika yang diperlengkapi dengan perlindungan diri paling mahal dan canggih sekalipun tetap mengalami serangan 11 September. Juga muncul soal etis: apakah demi keamanan ”kami”, ”mereka” boleh dilumpuhkan, lalu menderita dan menjadi korban?

Kerentanan manusia

Tentu sudah hal lumrah bahwa kita perlu melindungi diri dari ancaman. Dan, dalam hal ini ada proses khas dunia modern yang masuk, yaitu impian menghapus kerentanan (vulnerability) hidup. Untuk itu, pengetahuan dan teknologi pun dikembangkan, khususnya teknologi militer. Prinsip pengembangannya ialah bagaimana agar serangan terhadap ancaman sungguh canggih dan tuntas sehingga musuh tidak berdaya membalas.

Jadi, imaji yang terbangun (demi rasa aman) ialah imaji permusuhan, dan teknologi pun dibuat untuk menerjemahkan kebencian tadi agar bekerja tanpa ampun. Padahal, dasar keamanan perlu dilihat dari kerentanan manusia itu sendiri. Kerentanan manusia itu tampak sejak kita bayi; ia hanya aman dan bertumbuh kuat kalau ia dipelihara dan didukung oleh tangan-tangan orang lain.

Kerentanan adalah keadaan konstitutif manusia dan kalau manusia berniat menghilangkan ihwal rentan dalam hidupnya, ia sebenarnya sudah berhenti menjadi manusia. Maka, menerima kerentanan ialah menerima diri yang tak bisa dilepaskan dari dukungan orang lain.

Selanjutnya, kepentingan bersama untuk rasa amanlah yang akan dicari, yang mendorong kerja sama lintas kelompok dan negara. Emmauel Levinas (filsuf Yahudi) menegaskan bahwa berjumpa dengan orang lain—dan bukan mengabaikannya, apalagi ”membunuhnya”—akan membantu kita menemukan martabat kita sendiri. Bahkan, kita sesungguhnya berada sebagai yang bertanggung jawab di hadapan sesama tersebut dan tanggung jawab tadi perlu diwujudkan dalam kerja sama demi keamanan semua orang.

Keamanan yang baru

Maka, penghayatan keamanan menjadi lebih luas dan baru; dan contoh yang paling gamblang di sini ialah kasus keamanan nasional Mesir terkait dengan air Sungai Nil. Ada hampir 250 juta manusia yang hidup dan minum dari sungai itu dan di Mesir sekitar 75 juta orang bergantung padanya (90 persen suplai air untuk Mesir datang dari situ). Karena itu, mantan Sekjen PBB Boutros Boutros-Ghali mengatakan bahwa konflik dan perdamaian akan bergantung pada air, sebab sintas (survive) tidaknya Mesir ada di situ.

Di sini muncul kesadaran akan kerentanan hidup, tetapi sekaligus kesediaan untuk bekerja sama dengan negara-negara yang dilintasi Sungai Nil di Afrika Utara (inilah dasar terbaik untuk membangun keamanan). Dalam politik global pendapat keamanan seperti ini sering dituduh sebagai sebentuk idealisme isapan jempol. Namun, yang mengatakan itu segera dihadang dengan soal-soal kontemporer; kita tidak bisa melindungi diri terhadap pemanasan global dengan cara mendirikan perbatasan, asap polusi tak bisa dipagari. Kita pun tidak bisa bebas sendiri dan mengisolasi diri dari krisis finansial hari-hari ini.

Ghetto Gaza tidak akan bisa menolong Israel, sebab perdamaian tidak pernah bisa dicapai dengan kawat duri dan tembok perbatasan. Makanya, dalam demonstrasi damai atas penyerangan Israel, ada satu plakat diusung, berbunyi ”beri Gaza harapan, agar damai tejadi!”. Di sini keamanan lahir justru kalau kerentanan orang lain dan kita sendiri dimaklumi betul.

Karya rekonsiliasi

Dengan demikian, keamanan tidak lagi dipahami secara self-centered, tetapi rekonsiliatif. Artinya, kerja sama dan pencapaian kesejahteraan bersama adalah dasar pendirian ataupun adanya keamanan dalam suatu negeri. Betullah adagium yang mengatakan bahwa keamanan mesti bertolak dari bersepakatnya hati, bukan dari pagar pembatas dengan para penjaganya.

Dalam hal itu, ada titik terang untuk mengubah ”musuh” menjadi kawan. ”Punya musuh satu sudah terlalu banyak dan punya kawan 1.000 masih kurang banyak”, demikian pepatah bijak yang kita dengar. Dan, hal itu semakin benar kalau ”aku” yang berkawan adalah aku yang sejatinya seorang manusia yang rentan, yang hanya oleh karena ”engkau” kita bisa sintas bersama; jadi memang keadaan rentan tidak perlu disangkal ataupun dinafikan.

Kalau perspektif keamanan ini diterima, ada kesempatan bagi lembaga-lembaga swadaya masyarakat (semisal Peace Corps) ataupun agama-agama untuk ikut serta dalam proses perdamaian menuju keamanan sejati. Mereka bisa menemui pihak-pihak yang berkonflik dan menawarkan kerja sama di hadapan kerentanan yang masing-masing dihadapi setiap hari dalam hidup ini.

Perdamaian dan keamanan tidak datang kalau pihak lain sudah dilucuti, tetapi kalau pihak lain menemukan bentuk-bentuk kerja sama konkret sehari-hari.

Martin Lukito Sinaga Seorang Penggiat Teologi dan Aktivis Dialog Antariman

Oleh Ahmad Syafii Maarif

Akhirnya mata dunia terbelalak juga setelah melihat gempuran masif pasukan Israel di Jalur Gaza dengan persetujuan pemerintah dan sebagian besar politisi Amerika terhadap tindakan genosida zionis yang sangat biadab itu.

Di bawah ini saya turunkan petisi dari 322 kaum akademisi Inggris, dengan berbagai latar belakang profesi, bagi penyelesaian menyeluruh konflik Palestina-Israel yang perlu diketahui oleh publik Indonesia. Petisi tertanggal 16 Januari 2009 ini, semula dimuat dalam The Guardian, kemudian dikutip The Palestine Chronicle dengan tanggal yang sama, menjadi sangat penting.

Bukankah dulu pada November 1917 melalui Deklarasi Balfour (mantan Perdana Menteri Inggris) yang menjanjikan terbentuknya sebuah negara Yahudi di Palestina ketika daerah itu masih berada di bawah mandat Inggris? Kini kaum akademisinya bersuara lantang untuk tegaknya keadilan bagi rakyat Palestina yang tertindas sejak 1948, saat negara Yahudi itu dibentuk secara resmi dengan mengusir ratusan ribu rakyat Palestina dari rumahnya sendiri.

Menentang Israel

Inilah terjemahan utuh petisi itu: ”Pembantaian besar-besaran di Gaza adalah fase perang paling akhir yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina yang sudah berlangsung lebih dari 60 tahun. Tujuan perang ini tidak pernah berubah: menggunakan pasukan militer secara melimpah untuk menghabisi rakyat Palestina sebagai sebuah kekuatan politik, kekuatan yang mampu melawan pencaplokan Israel atas tanah dan sumber-sumber mereka.

Perang Israel terhadap rakyat Palestina telah mengubah Gaza dan Tepi Barat menjadi sepasang penjara politik raksasa. Tidak ada yang simetris tentang perang ini dalam hal prinsip, taktik, dan konsekuensi. Israel bertanggung jawab dalam melancarkan serta mengintensifkannya dan untuk mengakhiri tindakan permusuhan yang paling baru ini.

Israel mesti kehilangan. Gencatan senjata lainnya sudah tidak memadai lagi, atau juga bantuan kemanusiaan seterusnya. Sudah tidak cukup hanya mendorong pembaruan dialog dan mengakui keprihatinan dan penderitaan kedua belah pihak. Jika kita percaya pada prinsip hak penentuan nasib sendiri yang demokratik, jika kita mengukuhkan hak untuk melawan agresi militer dan pendudukan kolonial, maka kita wajib mengambil sikap… menentang Israel, dan bersama rakyat Palestina di Gaza dan Tepi Barat.

Kita harus melakukan apa yang mungkin untuk mencegah Israel menang dalam perangnya. Israel harus mengakui bahwa keamanannya bergantung atas keadilan dan hidup berdampingan secara damai dengan tetangga- tetangganya, dan bukan atas penggunaan pasukan kriminal.

Kita percaya Israel harus secepatnya dan tanpa syarat menghentikan serangan-serangannya atas Gaza, mengakhiri pendudukan atas Tepi Barat, dan meninggalkan semua klaim pemilikan atau penguasaan teritori melampaui batas 1967. Kita meminta Pemerintah Inggris dan rakyat Inggris untuk mengambil langkah-langkah yang mungkin yang mengharuskan Israel mematuhi tuntutan-tuntutan ini, mulai dengan program pemboikotan, pelepasan hak-haknya, dan sanksi- sanksi.”

Sikap banci

Karena panjangnya daftar nama yang turut dalam petisi ini, pembaca dapat mengakses melalui http://www.palestinechronicle.com/print_article.php?id=14685. Petisi ini dengan jelas menuntut agar Israel secepatnya meninggalkan pendudukannya secara tidak sah atas tanah Palestina jika memang punya niat baik untuk hidup damai dengan tetangganya.

Waktunya sudah sangat tinggi dan mendesak untuk bertindak sekarang. Jika tidak, darah masih akan terus tertumpah dan, percayalah, rakyat Palestina tidak mungkin terkalahkan oleh senjata yang paling canggih sekalipun. Negara-negara Arab juga harus mengubah sikap bancinya terhadap kemerdekaan Palestina yang tidak dapat ditawar itu.

Ahmad Syafii Maarif Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah