Oleh: AT. Erik Triadi*

Kapitalisasi yang terjadi di kota Yogyakarta semakin menggila. Icon-icon kapitalisme sudah terpampang di jalan-jalan. Segala jenis pusat-pusat perbelanjaan, cafe, sampai hiburan malam semakin menjamur, seakan mengingkari jati dirinya sebagai kota pelajar. Roh sebagai kota pelajar pun kiah hilang terkikis arus kapitalisme.

Tak dapat disangkal, perubahan merupakan suatu kepastian dalam roda perjalanan suatu kota. Tak terkecuali dengan Yogyakarta. Hanya saja kemajuan kota ini tak sejalan dengan kekhasan dan keunggulan yang telah lama disandang oleh Yogyakarta. Sebagai kota pelajar perkembangan kota Yogyakarta harusnya mendukung suasana belajar yang kondusif.

Kini tidak sulit kita menemukan mal, plaza atau pun pasar-pasar swalayan yang menawarkan segala kebutuhan sebagai manusia modern. Sangat mudah juga bagi kita mendapati tempat-tempat hiburan, baik cafe maupun diskotik dan lain-lain, apalagi disaat malam hari. Kota ini seakan-akan tak pernah tertidur. Usaha-usaha untuk mengukuhkan Yogyakarta sebagai pusat pendidikan di Indonesia terkalahkan oleh iming-iming rupiah.

Merajanya sektor konsumsi yang hadir dengan segala gegap gempitanya, tak terlepas dari besarnya jumlah golongan kaum muda yang menghuni Yogyakarta. Konsumen muda yang terdiri dari generasi muda, baik pelajar maupun mahasiswa merupakan sasaran empuk yang selalu menggugah selera kapitalisme. Kaum muda seusia itu merupakan pasar yang tak pernah habis dan cenderung akan bertambah besar.

Sesuai dengan hukum ekonomi dimana ada permintaan disitu akan ada suplay, artinya tempat hiburan, pasar-pasar modern yang hadir di kota budaya ini, didirikan karena memang banyak permintaan. Tingkat permintaan konsumen muda terhadap sektor konsumsi sangat tinggi. Tak mengherankan produsen habis-habisan melakukan investasi untuk menghadirkan kesenangan, kemudahan, dan modernisme di kota yang juga bergelar kota budaya ini.

Tingkat konsumtif kaum muda yang besar ini dikarenakan mereka belum dapat menentukan prioritas dalam dirinya. Konsumsi lebih cenderung didasarkan atas keinginan bukan karena kebutuhan yang memang diperlukan (real need). Mereka cenderung menelan mentah-mentah informasi yang diterima, asal menyenangkan. Apalagi di setiap sudut kita dikepung oleh iklan yang selalu menawarkan produk-produk agar dapat dikategorikan sebagai anak gaul dan modern. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh pemodal besar.

Hidup dalam pola dan arus konsumtivisme membuat orang merasa tidak puas jika produk atau barang yang diinginkannya belum dimiliki. Akibatnya orang selalu akan mengukur dirinya dan orang lain dengan indikator material. Jika kaum muda kita terus berada dalam situasi seperti ini kedepan akan semakin sulit kita menemukan pemimpin atau generasi masa depan yang memiliki dan menjunjung tinggi nilai-nilai humanisme, menghargai kemanusiaan. Akan sulit pula kita jumpai kaum muda atau mahasiswa dengan komitmen tinggi berjuang untuk membela rakyat kecil yang miskin oleh kesewenang-wenangan negara dan tergilas kaum pemodal.

Perkembangan Yogyakarta saat ini membuat kota ini menjadi tidak kondusif lagi menjadi tempat belajar. Yogyakarta membutuhkan redesain terhadap kota. Merencanakan segala sesuatunya secara berkesinambungan, dengan tetap mempertahankan dan terus mengembangkan jati dirinya sebagai kota pelajar, pencetak manusia-manusia berkualitas yang menghargai budaya luhur bangsa ini.

Penulis: Pegiat Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (LAPERA Indonesia)