Sebuah gudang di kompleks bangunan PBB di Jalur Gaza hancur, Kamis (15/1) terkena serangan Israel yang tampaknya bom fosfor putih.

“Gudang utama itu rusak parah oleh apa yang tampaknya bom fosfor putih. Mereka yang berada di lapangan tidak ragu-ragu lagi mengenai bom itu. Jika Anda meminta konfirmasi, itu seperti yang saya sebutkan,” kata kepala urusan kemanusiaan PBB John Holmes kepada wartawan pada jumpa pers di New York.

Kompleks bangunan itu milik Badan Bantuan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA). Kelompok hak asasi manusia Human Rights Watch sebelumnya juga menuduh Israel melancarkan serangan dengan bom fosfor putih. Bom ini bisa digunakan untuk tidak saja untuk membunuh namun juga sebagai senjata pembakar bangunan.

Israel menolak berkomentar mengenai penggunaan amunisi tersebut namun mengatakan, militer negara itu menggunakan senjata yang tidak melanggar hukum internasional.

Kecaman-kecaman terhadap militer Israel juga datang dari dalam negeri. Sejumlah kelompok hak asasi manusia di Israel mengatakan, Rabu, ofensif Israel terhadap Hamas di Jalur Gaza telah menimbulkan penderitaan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap warga sipil di wilayah Palestina itu. Mereka menuduh pasukan negara Yahudi tersebut menggunakan senjata-senjata mematikan yang menewaskan ratusan warga sipil yang tidak terlibat dalam konflik itu.

Dalam sepucuk surat yang dikirim kepada Perdana Menteri Israel Ehud Olmert, Menteri Pertahanan Ehud Barak dan jajaran tinggi militer, sembilan kelompok hak asasi manusia itu mengatakan, penduduk sipil di Gaza mengalami penderitaan kemanusiaan yang luar biasa. “Tingkat pencederaan terhadap penduduk sipil itu belum pernah terjadi sebelumnya,” kata kelompok-kelompok itu.

Sejak Israel meluncurkan perang gencar di Gaza, lebih dari 1.000 orang tewas dalam serangan-serangan udara yang tidak terhitung dan pertempuran hebat 10 hari. Jumlah itu mencakup 315 anak dan 100 wanita. Sebanyak 4.700 orang juga cedera dalam ofensif terbesar yang pernah dilakukan Israel ke wilayah pesisir Palestina itu. Para penandatangan surat kecaman itu mencakup Komite Umum anti-Penyiksaan di Israel, Dokter untuk Hak Asasi Manusia — Israel, Yesh Din dan Amnesti Internasional cabang Israel.

Kekerasan di sekitar Gaza meletus lagi setelah gencatan senjata enam bulan berakhir pada 19 Desember. Israel membalas penembakan roket pejuang Palestina ke negara Yahudi tersebut dengan melancarkan gempuran udara besar-besaran sejak 27 Desember dan serangan darat ke Gaza dalam perang tidak sebanding yang mendapat kecaman dan kutukan dari berbagai penjuru dunia.

Setelah pemboman udara beberapa hari, pasukan dan tank-tank Israel melakukan ofensif darat dengan bergerak ke pusat-pusat penduduk utama, termasuk Kota Gaza. Kelompok Hamas menguasai Jalur Gaza pada Juni tahun 2007 setelah mengalahkan pasukan Fatah yang setia pada Presiden Palestina Mahmud Abbas dalam pertempuran mematikan selama beberapa hari. Sejak itu wilayah pesisir miskin yang berpenduduk 1,5 juta orang itu dibloklade oleh Israel.

Sumber: Kompas.com