182150psingkawangSINGKAWANG, RABU — Wakil Ketua Perhimpungan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Singkawang, Mulyadi Qamal, menyatakan tingkat hunian hotel dan penginapan di kota tersebut mencapai 100 persen mulai lima hari menjelang Cap Go Meh 2560 yang bertepatan dengan 9 Februari 2009.

“Pemesanan sudah dilakukan satu bulan sebelumnya terutama oleh tamu-tamu dari Jakarta,” kata Mulyadi di Singkawang, Rabu (21/1) seraya menambahkan di Singkawang terdapat 14 hotel dan penginapan.

Ia mengatakan, minat warga keturunan Tionghoa maupun masyarakat lainnya untuk menyaksikan kegiatan Cap Go Meh di Singkawang lebih tinggi dibanding perayaan Tahun Baru Imlek. Salah satunya adalah atraksi tatung yang mendemonstrasikan kemampuan kebal terhadap senjata tajam sambil menyusuri jalan-jalan utama di kota berjuluk “Seribu Kelenteng” itu.

Menurut dia, meski krisis keuangan tengah melanda seluruh dunia, tetapi hal itu tidak mengurangi minat warga keturunan Tionghoa untuk merayakan Imlek dan Cap Go Meh.

“Antusiasme warga tidak berkurang bahkan kegiatan Cap Go Meh tahun ini lebih banyak dibanding tahun lalu,” kata Mulyadi Qamal yang juga mengelola Hotel Khatulistiwa Singkawang.

Lama hunian di hotel maupun penginapan pada perayaan Cap Go Meh umumnya berkisar tujuh hari. “Dua atau paling lama tiga hari setelah Cap Go Meh, biasanya tamu sudah pulang semua,” kata dia.

Mulyadi menegaskan, Singkawang selama ini sudah menjadi salah satu daerah tujuan wisata di Kalbar. “Masyarakat dari kabupaten atau kota lain di Kalbar menjadikan Singkawang sebagai tempat wisata,” katanya.

Pengunjung yang tidak mendapat kamar di hotel atau penginapan, diarahkan untuk menginap di rumah penduduk. “Sudah banyak rumah penduduk di Singkawang yang disewakan untuk menampung pengunjung yang tidak mendapat kamar di hotel atau penginapan,” katanya.

Perayaan Cap Go Meh di Singkawang juga menjadi bentuk akulturasi dengan budaya masyarakat lokal. Menurut sejarah, ketika pertambangan emas di Monterado, Kabupaten Bengkayang, yang terletak di sebelah timur Singkawang terkena wabah penyakit, masyarakat meyakini penyebabnya adalah roh atau makhluk jahat.

Untuk mengatasi itu, Tatung atau Louya turun ke jalan lalu keluar masuk kampung diiringi genderang dan pembakaran gaharu yang tidak putus-putusnya sehingga serangan roh atau makhluk jahat dapat dilawan dan perkampungan menjadi tenteram.

Saat ini, perayaan Cap Go Meh berupa parade Tatung atau Louya pada hari ke-14 turun ke jalan-jalan seputar kota Singkawang yang bermakna melakukan pembersihan kampung. Sementara puncak perayaan Cap Go Meh pada hari ke-15 di mana ratusan Tatung atau Louya dari seputar Singkawang melakukan parade sepanjang jalan utama.

Selama parade, Tatung atau Louya menunjukkan kemampuannya dengan berbagai atraksi, seperti berdiri di atas senjata tajam, wajah maupun badan yang kebal ditusuk dengan senjata tajam. Nuansa magis menjadi sangat terasa pada perayaan Cap Go Meh di Kota Singkawang, seperti pada peringatan-peringatan sebelumnya.

sumber: Kompas.com