Oleh Martin Lukito Sinaga

Serangan membabi buta Israel atas Gaza, ataupun invasi Amerika ke Irak tempo dulu, sering diatasnamakan pada keamanan (security). Tampaknya politik antarnegara masa kini menjadi medan hutan rimba yang anarki dan tindakan agresi kerap kali dilancarkan atas nama dan demi keamanan sendiri.

Tentu muncul persoalan mendalam di situ, semisal: kekuatan sebesar apa yang dibutuhkan suatu masyarakat agar ia aman?

Jawaban atas itu sungguh sulit, sebab Amerika yang diperlengkapi dengan perlindungan diri paling mahal dan canggih sekalipun tetap mengalami serangan 11 September. Juga muncul soal etis: apakah demi keamanan ”kami”, ”mereka” boleh dilumpuhkan, lalu menderita dan menjadi korban?

Kerentanan manusia

Tentu sudah hal lumrah bahwa kita perlu melindungi diri dari ancaman. Dan, dalam hal ini ada proses khas dunia modern yang masuk, yaitu impian menghapus kerentanan (vulnerability) hidup. Untuk itu, pengetahuan dan teknologi pun dikembangkan, khususnya teknologi militer. Prinsip pengembangannya ialah bagaimana agar serangan terhadap ancaman sungguh canggih dan tuntas sehingga musuh tidak berdaya membalas.

Jadi, imaji yang terbangun (demi rasa aman) ialah imaji permusuhan, dan teknologi pun dibuat untuk menerjemahkan kebencian tadi agar bekerja tanpa ampun. Padahal, dasar keamanan perlu dilihat dari kerentanan manusia itu sendiri. Kerentanan manusia itu tampak sejak kita bayi; ia hanya aman dan bertumbuh kuat kalau ia dipelihara dan didukung oleh tangan-tangan orang lain.

Kerentanan adalah keadaan konstitutif manusia dan kalau manusia berniat menghilangkan ihwal rentan dalam hidupnya, ia sebenarnya sudah berhenti menjadi manusia. Maka, menerima kerentanan ialah menerima diri yang tak bisa dilepaskan dari dukungan orang lain.

Selanjutnya, kepentingan bersama untuk rasa amanlah yang akan dicari, yang mendorong kerja sama lintas kelompok dan negara. Emmauel Levinas (filsuf Yahudi) menegaskan bahwa berjumpa dengan orang lain—dan bukan mengabaikannya, apalagi ”membunuhnya”—akan membantu kita menemukan martabat kita sendiri. Bahkan, kita sesungguhnya berada sebagai yang bertanggung jawab di hadapan sesama tersebut dan tanggung jawab tadi perlu diwujudkan dalam kerja sama demi keamanan semua orang.

Keamanan yang baru

Maka, penghayatan keamanan menjadi lebih luas dan baru; dan contoh yang paling gamblang di sini ialah kasus keamanan nasional Mesir terkait dengan air Sungai Nil. Ada hampir 250 juta manusia yang hidup dan minum dari sungai itu dan di Mesir sekitar 75 juta orang bergantung padanya (90 persen suplai air untuk Mesir datang dari situ). Karena itu, mantan Sekjen PBB Boutros Boutros-Ghali mengatakan bahwa konflik dan perdamaian akan bergantung pada air, sebab sintas (survive) tidaknya Mesir ada di situ.

Di sini muncul kesadaran akan kerentanan hidup, tetapi sekaligus kesediaan untuk bekerja sama dengan negara-negara yang dilintasi Sungai Nil di Afrika Utara (inilah dasar terbaik untuk membangun keamanan). Dalam politik global pendapat keamanan seperti ini sering dituduh sebagai sebentuk idealisme isapan jempol. Namun, yang mengatakan itu segera dihadang dengan soal-soal kontemporer; kita tidak bisa melindungi diri terhadap pemanasan global dengan cara mendirikan perbatasan, asap polusi tak bisa dipagari. Kita pun tidak bisa bebas sendiri dan mengisolasi diri dari krisis finansial hari-hari ini.

Ghetto Gaza tidak akan bisa menolong Israel, sebab perdamaian tidak pernah bisa dicapai dengan kawat duri dan tembok perbatasan. Makanya, dalam demonstrasi damai atas penyerangan Israel, ada satu plakat diusung, berbunyi ”beri Gaza harapan, agar damai tejadi!”. Di sini keamanan lahir justru kalau kerentanan orang lain dan kita sendiri dimaklumi betul.

Karya rekonsiliasi

Dengan demikian, keamanan tidak lagi dipahami secara self-centered, tetapi rekonsiliatif. Artinya, kerja sama dan pencapaian kesejahteraan bersama adalah dasar pendirian ataupun adanya keamanan dalam suatu negeri. Betullah adagium yang mengatakan bahwa keamanan mesti bertolak dari bersepakatnya hati, bukan dari pagar pembatas dengan para penjaganya.

Dalam hal itu, ada titik terang untuk mengubah ”musuh” menjadi kawan. ”Punya musuh satu sudah terlalu banyak dan punya kawan 1.000 masih kurang banyak”, demikian pepatah bijak yang kita dengar. Dan, hal itu semakin benar kalau ”aku” yang berkawan adalah aku yang sejatinya seorang manusia yang rentan, yang hanya oleh karena ”engkau” kita bisa sintas bersama; jadi memang keadaan rentan tidak perlu disangkal ataupun dinafikan.

Kalau perspektif keamanan ini diterima, ada kesempatan bagi lembaga-lembaga swadaya masyarakat (semisal Peace Corps) ataupun agama-agama untuk ikut serta dalam proses perdamaian menuju keamanan sejati. Mereka bisa menemui pihak-pihak yang berkonflik dan menawarkan kerja sama di hadapan kerentanan yang masing-masing dihadapi setiap hari dalam hidup ini.

Perdamaian dan keamanan tidak datang kalau pihak lain sudah dilucuti, tetapi kalau pihak lain menemukan bentuk-bentuk kerja sama konkret sehari-hari.

Martin Lukito Sinaga Seorang Penggiat Teologi dan Aktivis Dialog Antariman